Rabu, 29 November 2017

Dimuat di Majalah UMMI, edisi bulan September: TABUNGAN BURHAN



TABUNGAN BURHAN
Oleh: Utami Panca Dewi

            Burhan menimang-nimang buku tabungannya. Saldo terakhir sudah mencapai satu juta empat ratus empat puluh lima ribu rupiah. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang tirus. Sudah terbayang di pelupuk matanya, wajah emak yang pasti sumringah saat mendengar rencananya.
            Sampai di rumah, tangisan anaknya yang ketiga menyambut Burhan. Emak berusaha menenangkan Agil yang sedang duduk sambil menangis.
            “Kenapa lagi dengan Agil?” tanya Burhan kepada istrinya yang sedang membuat minuman. Burhan memberi nama Ragil untuk anaknya yang ketiga. Artinya adalah si bungsu. Tetapi kalau sekarang Astuti sedang hamil anaknya yang keempat, haruskah ia mengganti nama Agil? Ah... Siapa pun nama anaknya, hidup tetap harus berjalan. Mungkin nanti adiknya Agil akan ia beri nama Pungkas, yang artinya anak terakhir. Burhan berpikir sambil tersenyum.
            “Kang!” tegur Astuti sambil menyerahkan segelas kopi.
            Burhan tersentak kaget.
            “Sudah dijawab kok malah melamun loh!” Protes Astuti sambil geleng-geleng kepala.
            “Oh ya? Jadi, kenapa Agil menangis?” Bondan mengulangi pertanyaannya sebelum duduk dan mulai menyeruput kopi.
            “Agil ingin membeli es jus di warung Bu Siti, tetapi esnya habis,” jelas Astuti.
            “Kenapa harus nangis?”
            “Ya, udaranya panas begini? Kang Burhan sih, susah dibilangi. Tabungan Kang Burhan itu sudah cukup untuk membeli kulkas. Mungkin nanti aku bisa membuat es mambo untuk nambah-nambah penghasilan.”
Astuti menjelaskan secara panjang lebar. Namun ujung-unjungnya pasti sama. Selalu ingin menguras habis tabungannya. Burhan mengangkat bahu. Astuti bertambah kesal.
@@
            Burhan mengepak baju-baju yang sudah disetrika oleh Marni, ke dalam plastik-plastik besar transparan. Beberapa kali ia harus mencocokkan macam baju yang dikemasnya dengan data yang disodorkan oleh Marni. Ia tidak mau terjadi insiden seperti kemarin.  Cucian baju Bu Anita tertukar dengan milik Pak Doni. Burhan jadi kena tegur Bu Tika.
            Hari ini ia harus mengantarkan baju-baju itu ke pelanggan. Sudah 3 tahun ini Burhan bekerja di Kartika Loundry and Dry Cleaning milik Bu Tika. Sebelumnya ia selalu gonta-ganti pekerjaan. Bu Tika orangnya baik. Makanya Burhan betah bekerja di Kartika Loundry. Bu Tika selalu memberi uang lembur jika pulangnya melebihi batas jam kerja yang telah disepakati. Uang lembur itulah yang selama ini ia sisihkan untuk ditabung. Burhan memiliki sebuah rencana besar. Dan Astuti tidak pernah tahu itu.
            “Itu sprei milik Bu Manda jangan diantar dulu. Orangnya sedang ke luar kota.” Instruksi dari Bu Tika membuat Burhan sejenak menghentikan kegiatannya.
“Baik Bu,” jawab Burhan patuh. Disisihkannya bungkusan plastik berisi sprei berwarna merah jambu itu ke dalam kontainer plastik besar di sebelahnya.
“Burhan, saya ada penawaran...”
“Penawaran apa Bu?” tanya Burhan penasaran.
“Saya ingin membeli satu mesin cuci lagi untuk menggantikan salah satu mesin cuci kita. Mesin cuci kita sebetulnya masih baik, hanya daya tampungnya yang kurang banyak. Kamu  mau membeli mesin cuci yang lama? Nanti istrimu bisa membuka usaha loundry sendiri di rumah?” papar Bu Tika panjang lebar.
“Bu Tika mintanya berapa Bu?”
“Lima ratus ribu saja. Itu merk-nya bagus loh. Paten.”
Burhan berpikir keras. Seandainya tabungannya ia gunakan untuk membeli mesin cuci, berarti tabungannya akan berkurang lima ratus ribu. Itu artinya, tahun ini rencananya akan gagal lagi. Haruskah ia menunda rencananya sampai tahun depan? Akhirnya Burhan menggeleng pelan.
“Baiklah kalau begitu, mesin cucinya akan aku tawarkan kepada Marni atau Jono.”
Bu Tika berlalu. Burhan menyesali keputusannya tadi. Kenapa ia harus menolak tawaran Bu Tika? Tawaran yang datangnya belum tentu setahun sekali. Mungkin belum rejekinya. Lain kali, kalau memang sudah menjadi jatah rejekinya, pasti Bu Tika akan membeli mesin cuci baru lagi, dan menawarkan yang lama kepadanya, hiburnya pasrah.
@@
“Tidak bisa kurang Pak?”
“Itu sudah harga pas. Nanti kalau Mase membelinya pas menjelang hari raya kurban, harganya bisa naik lagi menjadi dua juta.”
Burhan berpikir keras. Kambing berumur satu setengah tahun itu memang gemuk. Cocok dan memenuhi syarat untuk menjadi hewan kurban.
“Uang saya cuma satu juta enam ratus ribu, Pak. Mbok dikurangi dikit to harganya,” rayu Burhan. Dipandangnya kambing itu sambil menelan ludah.
“Ya sudah Mas, satu tujuh lima dah. Itu laba saya sudah mepet loh!” Pak Brewok, penjual kambing itu akhirnya menyerah.
“Lah yang seratus lima puluh ribu?”
“Katanya Mase minggu ini ada lemburan?”
Burhan mengangguk mengiyakan.
“Ya kekurangannya boleh dibayar Sabtu depan, wis ra po po.”
Akhirnya Burhan jadi juga menuntun kambing pulang ke rumah. Emak menyambut dengan gembira. Sudah lama emak ingin berkurban seekor kambing seperti orang-orang di kampungnya. Ia ingat pembicaraannya dengan Emak beberapa bulan silam.
“Mak iri Le, sama Mbak Siti, Pak Haji dan Bu Atun.”
“Kenapa Mak?”
“Mereka selalu berkurban seekor kambing setiap kali hari raya Idul Adha tiba. Pak Haji malah berkurban seekor sapi.”
“Tapi mereka orang mampu Mak, sedangkan kita?” tukas Burhan.
“Tapi berkurban itu perintah Allah, Le. Ada kok dalam Al-Qur’an.” Emak tidak mau mengalah.
Emak memang sangat ingin ikut berkurban. Menjadi penerima daging kurban memang menyenangkan. Tetapi tentu lebih senang lagi kalau bisa mempersembahkan daging kurban. Mata Emak berkaca-kaca. Dan Burhan bertekad untuk mewujudkan keinginan emak itu.
@@
“Apa Kang? Tabunganmu malah kau belikan kambing? Memangnya kita orang kaya, sehingga harus...” Burhan menutup bibir Astuti dengan punggung tangannya.
“Aku ingin berkurban atas nama emak. Yah, aku ingin sekali-kali memberikan kebahagiaan kepada emak.”
“Tapi Kang...” Astuti ingin protes. Tapi Burhan segera meletakkan telunjuknya di depan mulutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat itulah emak masuk.
“Han, kambingnya betul-betul gemuk ya?” ucap emak. Senyum tak pernah lepas dari wajah tuanya.
“Iya dong Mak. Kambing untuk berkurban memang harus yang gemuk dan sudah cukup umur. Oh ya satu lagi, kambing itu harus sehat,” jawab Burhan dengan mata berbinar-binar.
Hari Raya Idul Adha masih kurang beberapa minggu lagi. Kambing itu harus di beri makan. Astuti tidak mungkin mencarikan rumput dan daun-daunan. Apa kata tetangga nanti, kalau melihat Astuti menggendong seikat daun-daun segar, sementara perutnya sudah semakin membesar. Tidak mungkin Burhan memberi tugas kepada ank-anaknya. Sulungnya baru delapan tahun. Akhirnya emak mengalah. Emak yang akan mencari dedaunan untuk makanan kambing.
@@
Hari itu Bondan boleh pulang lebih awal. Syaratnya, ia harus membawa segulung karpet untuk dicuci di rumah. Bu Tika sangat senang dengan cara kerja Burhan yang cekatan. Oleh karena itu, kadang-kadang Bu Tika mengijinkan Burhan untuk membawa pulang cucian yang bisa dikerjakan di rumah.
Sampai di ujung gang, langkahnya terhenti. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di rumahnya. Tetangganya berkumpul di rumah sambil berbisik-bisik. Wajah mereka satu warna. Sedih dan prihatin. Hati Burhan merasa tak enak. Ia mempercepat langkahnya dan menghambur ke dalam rumah. Di dalam bilik, ia menjumpai Astuti sedang menangis. Mak terbujur kaku di pembaringan.
“Apa yang telah terjadi Tuti? Ayo katakan, apa yang telah  terjadi dengan Emak?”
Burhan mengguncang-guncang tubuh Astuti.
“Emak, Kang. Emak terserempet mobil saat menyeberang jalan sambil menggendong dedaunan...” Astuti kembali menangis. Ketiga anaknya duduk berjejer di tepi pembaringan. Menatap kosong ke arah jasad neneknya.
“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun... Dua hari lagi Mak. Kurang dua hari lagi keinginan Mak akan terkabul. Mak bisa berkurban. Tetapi kenapa Mak pergi begitu cepat?” bisik Burhan parau.
“Istighfar ya Han. Rejeki, jodoh dan kematian itu semua sudah diatur oleh Allah. Ikhlaskanlah. Insyaallah niat Emakmu untuk berkurban sudah dicatat oleh malaikat.” Pak Haji menepuk lembut bahu Burhan. Burhan semakin tergugu.
@@

Senin, 29 Mei 2017

Cerpen : SURAT-SURAT YANG TERLAMBAT SAMPAI

Cerpen.


SURAT-SURAT YANG TERLAMBAT SAMPAI
Oleh: Utami Panca Dewi
(dimuat di majalah GADIS, edsi no. 04, April 2017)
 
            



            Aku menunduk gamang sambil memegang kertas di tanganku. Kelas masih sepi. Hanya ada seorang saja yang menemaniku sambil matanya menatap tajam ke arah kertas yang ada dalam genggamanku. Milli. Cewek berkulit putih itu, teman sebangkuku sejak duduk di kelas sepuluh IPA Satu.
            “Apa susahnya menyelidiki, tentang seseorang yang telah menaruh surat-surat itu di lokermu? Jangan-jangan… secret admirer…” kata-kata terakhir Milli yang dibisikkannya di telinga kiriku itu sungguh mengagetkanku. Aku hampir terlonjak karenanya.
            “Percuma, Mil. Tulisan dengan huruf terbalik-balik itu, tak kumengerti sama sekali maknanya.” Aku melipat surat itu, lalu memasukkannya ke dalam tas.
            ”Tapi ini sudah keempat kalinya!”
            Bel keburu berbunyi. Teman-teman yang tadi bercengkerama di luar, serentak masuk ke dalam kelas, mengambil tempat duduk masing-masing dengan tertib. Seperti pengunjung yang sudah lama antri untuk memasuki Wahana Kora-kora di Dufan. Bu Tari, guru Fisika itu sudah masuk ke ruang kelas. Kayon juga. Cowok kidal yang selalu menatapku dengan sengit itu. Sejak ia memergokiku sedang menggunjingkan ’kelebihan’ tangan kirinya itu di kelas, ia sepertinya membenciku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke tembok, begitu tatapanku bersirobok dengan mata sipit Kayon. Tentu saja sebelum aku gelagapan, karena dipanggil secara mendadak oleh Bu Tari untuk mengerjakan PR nomer satu di depan kelas.
@@
            Aku tetap melanjutkan hidupku, dan tak terganggu lagi dengan kedatangan surat-surat aneh yang tak terbaca, karena hurufnya yang serba terbalik itu. Sampai suatu siang, Milli berlari-lari kecil menjumpaiku. Mulutnya masih terengah saat ia berteriak antusias kepadaku.
            Humprah... Demi hadiah yang kamu janjikan kapan hari itu, aku akhirnya bisa memecahkan teka-teki surat di lokermu!”
            ”Jadi siapa pengirimnya?”                                                                                           
            ”Siapa lagi? Kayon!”
            Dengan menggebu, Milli mengungkapkan teorinya. Penjelasannya sudah seperti penjelasan Bu Tari saat menjelaskan hukum kekekalan energi. Teorinya tentang ’Mirror Writing’ benar-benar berhasil membuatku ternganga. Tulisan dalam kertas-kertas yang beberapa hari belakangan telah menjadi tamu di lokerku, memang sulit dibaca dengan mata telanjang. Namun, lain halnya apabila dibaca melalui cermin.
            ”Kenapa harus dibaca dengan cermin?” Mukaku mungkin terlihat sangat bodoh saat menanyakan hal itu di depan Milli yang berotak cemerlang.
            ”Kamu pernah melihat mobil Ambulance? Kenapa tulisan Ambulance yang ada di depan mobil selalu terbalik?” tanya Milli berapi-api.
            ”Agar pengemudi yang ada di depan mobil ambulance segera memberi jalan. Sifat cermin adalah menciptakan ’bayangan’ yang berkebalikan dengan obyeknya, kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan. Pengemudi yang ada di depan ambulance akan membaca tulisan AMBULANCE dengan jelas dari kaca spion,” jawabku diplomatis.
”Nah! Sekarang mari kita baca bersama-sama, tulisan dalam surat-surat yang nyasar ke lokermu itu melalui cermin!” ajak Milli dengan antusias.
            ”Tapi tunggu!! Apa hubungannya dengan Kayon coba?” aku masih saja belum mengerti dengan jalan pikiran sahabatku itu.
            Milli menatapku dengan gemas. Lalu ia menjelaskan bahwa cara menulis dengan huruf terbalik-balik tersebut ada kaitannya dengan kekidalan Kayon. Seseorang yang kidal, secara alami memiliki cara menulis dengan teknik dari kanan ke kiri. Huruf yang ia goreskan, juga akan ditulis terbalik secara horisontal.
            ”Kamu pernah membaca artikel tentang lukisan ’Vitruvian Man’ yang dibuat oleh Leonardo da Vinci? Catatan di atas dan di bawah lukisan tersebut sulit dibaca dengan mata telanjang, namun sangat jelas dibaca melalui cermin. Mirror Writing, Isya! Leonardo juga seorang kidal! Kamu masih bertanya apa hubungannya dengan Kayon?”
            Lagi-lagi aku cuma bisa menggeleng bodoh. Milli bertambah gemas. Referensi pengetahuan yang kumiliki memang sangat payah, kalau dibandingkan dengan Milli yang kutu buku itu.
@@
            Maka sore itu sepulang sekolah, aku dan Mili segera sibuk menerjemahkan teka-teki isi surat yang sengaja dimasukkan seseorang ke dalam lokerku. Kami duduk bersisian di sebuah kamar yang penuh berjejalan dengan buku-buku. Tentu saja di kamar Milli, yang hanya beda-beda tipis dengan kios lapak buku bekas yang ada di sepanjang Jalan Stadion Selatan.
            AKU MENYAYANGIMU, SELALU.
            Kami membaca kalimat pendek dalam surat pertama yang dikirim ke lokerku. Mataku saling bertatapan dengan mata Milli, sebelum akhirnya tawa Milli meledak, membuat wajahku yang semula dipenuhi rasa penasaran menjadi cemberut seketika.
            Astaga naga... jadi diam-diam Si Introvert itu naksir sama kamu, Isyana?” tanya Milli setelah berhasil meredakan tawanya. Namun senyum jahil masih menghiasi wajahnya.
            Aku meraih bantal dan memukul punggungnya dengan gemas. Milli mengaduh-aduh sambil memintaku untuk meneruskan membaca isi surat yang kedua. Aku menyetujui permintaannya dengan satu syarat: Ia tak lagi menertawakanku.
            TOLONG, MAAFKANLAH AKU. PLEASE! AKU INGIN BERBUAT YANG TERBAIK UNTUKMU.
            ”Ini justru terbalik, Milli. Seharusnya aku yang minta maaf kepada Kayon. Bukankah aku yang selalu mengejek kekidalannya? Bahkan membicarakan keanehannya itu di belakang dia?”
            ”Tunggu dulu Isya. Mungkin ia meminta maaf justru untuk ’memberi muka’ kepada orang yang sudah berbuat salah.”
            ”Memberi muka? Maksudmu?”
            ”Iya, dia kan tertarik kepadamu. Makanya dia nggak mau mempermalukanmu dengan menyuruhmu meminta maaf kepadanya di depan teman-teman. Itu namanya berjiwa besar.”
            Aku mengangguk-angguk, meskipun sejatinya kurang mengerti dengan penjelasan Si Jenius itu. Ah, biarlah lain kali akan kutanyakan. Sekarang lebih baik meneruskan lagi dengan membaca surat yang ketiga dan keempat.
            BAGAIMANA KALAU HARI INI KITA KETEMU DI KAFE JINGGA? MEJA NOMER 13, SUDUT KAFE.
            ”Dia mengajakmu kencan, Isya. Tapi ini sudah seminggu yang lalu. Sudah terlambat untuk datang.” Tak ada ekspresi mengejek dari muka Milli. Yang ada justru ekspresi penyesalan. Entah kenapa hatiku jadi berdebar-debar. Kayon mengajakku untuk bertemu? Ini sungguh berita yang luar biasa. Aduh Mama... tidakkah ia tahu, bahwa alasanku sering membicarakannya, justru karena aku juga sangat tertarik kepadanya?
            AKU INGIN MENITIPKAN KEHIDUPANKU DI TUBUH MAMAMU. DENGAN BEGITU KITA AKAN SELALU BERSAMA.
            ”Kalimat dalam surat terakhir agak aneh, Mil. Kayon dan Mamaku belum saling kenal!” Kutatap wajah sahabatku dengan seksama. Berharap otaknya yang cemerlang itu akan berhasil memecahkan maksud Kayon dengan isi suratnya yang keempat itu.
            ”Bisa saja Kayon itu anak dari sahabat Mamamu? Kamu kan tidak pernah tahu dan selalu tidak mau tahu?”
            Aku melengos mendengar sindiran Milli itu.
            ”Iya.. iyaaaa.... Sekarang apa saranmu?” tanyaku penuh harap.
            ”Temui Kayon! Tunjukkan surat-surat itu.”
            Mataku membeliak lebar mendengar usul Milli yang tak masuk akal itu. Aku, menemui Si Introvert itu? Beuh...
@@
            Pertemuan antara aku dan Kayon akhirnya terjadi juga. Di kafe Jingga, seperti yang telah ditulisnya di surat yang ketiga. Tentu saja dengan bantuan Milli. Selain pintar, ternyata Milli juga berbakat sebagai Mak Comblang. Hahay... aku hampir tersedak mendengar kata-kata itu. Di jaman secanggih ini, dengan fasilitas banyak social media, ternyata kencanku dengan seorang cowok masih diatur oleh seorang Mak Comblang.
Tetapi tidak seperti saat memecahkan soal matematika dan fisika. Untuk urusan memecahkan kebekuanku dengan Kayon, Si Milli telah mengalami kegagalan yang fatal.
”Aku tidak pernah menulis surat-surat yang kau tunjukkan itu!”
Mataku terbeliak mendengar jawaban Kayon itu, sebelum kemudian meredup. Setelah dengan susah payah, aku menjelaskan arti kalimat demi kalimat dari surat-surat itu, dia malah membantahnya? Aku betul-betul menjadi salah tingkah di depannya. Kalau ada jus wortel yang dikombinasikan dengan buah tomat, mungkin paras mukaku sudah sewarna dengan itu. Parah betul. Dalam hati, aku mengutuk habis-habisan usul dari Milli.
”Jadi kamu nggak menginginkan pertemuan kita di kafe ini?” kuberanikan bertanya lagi, sambil menatapnya sekilas.
Lagi-lagi Kayon menggeleng sambil mengangkat bahu. Mukanya datar banget. Beuhhh...
Pertemuan itu berakhir dengan punggung Kayon yang bergerak menjauhiku. Aduh Mama.... Mau ditaruh di mana mukaku kalau nanti bertemu dengan Kayon lagi?
@@
Hari ini aku tak melihat Kayon di kelas. Juga hari berikutnya. Kupikir ini lebih baik untukku, setelah peristiwa memalukan di Kafe Jingga tempo hari. Kata ketua kelas, Kayon pindah ke Singapura untuk menemani Mamanya yang menderita penyakit ginjal kronis dan sedang berobat ke sana. Siapa yang peduli? Aku sudah move on dari cowok Introvert itu, meskipun bayangannya terkadang sesekali masih suka melintas di pikiranku. Tapi lagi-lagi justru Milli yang mengusik ketenangan hidupku.
”Hey... Jadi kamu sudah nyerah Sya?”
”Maaf, ini tentang apa ya? Kalau tentang Si Kayon...”
”Dia sudah pergi, Isya. Forget him. Tapi ini masih tentang surat-surat yang ada di lokermu. Kemarin sore sepulang rapat OSIS, tanpa sengaja aku melihat seorang adik kelas memasukkan sehelai kertas ke lokermu. Wajahnya cantik, meskipun agak pucat.”
”Hah? Jadi pelakunya cewek? Jangan-jangan dia penyuka sesama....”
Milli buru-buru menutup mulutku dengan telunjuknya yang lentik. Kalimat-kalimat bijaksana segera berhamburan dari bibirnya. Agar aku berpikiran positif, agar bersedia membantunya menyelesaikan masalah pelik itu. Hai... surat-surat itu kan masalahku, kenapa justru Milli yang repot? Dasar sok detektif.
”Ayolah Isya, paling tidak kita harus mengetahui isi surat yang kelima yang ditulis gadis itu. Siapa tahu, kita akan mendapatkan jawaban dari suratnya yang kelima?”
”Itu lebih seperti memo, Mil. Surat kok tidak ada identitasnya. Dari siapa? Untuk siapa?” keluhku beruntun. Aku sudah kepalang patah hati, menyadari bahwa Kayon tak ada hati kepadaku.
Aku masih ingin mengomel panjang pendek, ketika lenganku sudah digamit oleh lengan Milli. Ya Tuhan... gadis kawan akrabku itu menyeretku dengan setengah memaksa. Ke mana lagi kalau bukan ke arah loker.
Lalu seperti biasanya, kertas dengan huruf terbalik-balik itu berhasil dibaca oleh Milli dengan bantuan cermin.
KE MANA, KAK KAYON DUA HARI INI? KUTUNGGU KAKAK HARI INI DI KAFE JINGGA PUKUL LIMA SORE. JANGAN TERLAMBAT, JANGAN PULA DATANG LEBIH AWAL. AKU AKAN MENJELASKAN ALASANKU MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA.
Aku dan Milli saling berpandangan. Jadi gadis itu mantan kekasih Kayon. Tetapi kenapa ia salah meletakkan suratnya dalam lokerku?
”Lokermu bersebelahan dengan loker Kayon. Gadis itu telah salah sejak awal dalam meletakkan surat-suratnya. Bukankah kau juga pernah melakukan kesalahan yang sama?”
Milli seperti bisa membaca jalan pikiranku. Aku jadi ingat, dulu pernah beradu mulut dengan Kayon, gara-gara salah meletakkan tasku di lokernya, sehingga ia terpaksa meletakkan tasnya di lokerku. Aku manggut-manggut.
”Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku.
”Kita temui gadis itu nanti sore di Kafe Jingga”
@@
Dan, di sinilah aku. Di Merlion Park, di pinggir Singapore River, seberang gedung Esplanade. Aku berjanji untuk bertemu dengan Si Introvert itu di dekat patung Merlion. Untuk apa lagi, kalau bukan untuk urusan kelima surat untuknya yang nyasar ke lokerku.
Dua hari sebelumnya, aku dan Milli telah bertemu dengan gadis itu. Rauda namanya. Ia begitu terkejut melihat kedatanganku dan juga Milli di Kafe Jingga. Setelah Milli menjelaskan tentang kelima suratnya yang salah alamat, Rauda pun mulai bercerita. Tentang ia dan Kayon yang sama-sama kidal. Tentang pertemuan mereka di club ANTARI (Anugerah Tangan Kiri). Lalu mereka saling jatuh cinta, sebelum akhirnya Rauda memutuskan Kayon secara sepihak, tanpa ada satu penjelasan pun kepada cowok itu.
”Jadi, apa alasanmu memutuskan hubungan?” tanyaku tanpa basa basi. Milli menyodok perutku dan aku meringis karenanya.
”Aku tak mau membuatnya sedih Kak, karena hidupku tak akan lama lagi. Aku penderita Paru-paru Obstruktif Kronis,” jelasnya sambil menunduk.
Rauda mengirimkan surat-surat pendek itu, karena ingin meminta maaf kepada Kayon. Ia juga ingin menjelaskan alasannya meminta putus dari Kayon. Dan satu lagi yang lebih penting, ia ingin menyumbangkan ginjalnya kepada Mamanya Kayon, bila kematian telah menjemputnya.
Entah kenapa hatiku tiba-tiba berdesir. Aku jadi terkepung oleh rasa haru dan merasa kasihan dengan nasib gadis itu. Di depan Milli, aku berjanji akan menemukan Kayon di Singapura, untuk menyerahkan surat-surat yang telah ditulis oleh Rauda. Lalu Rauda juga mengutarakan niatnya untuk menuliskan selembar surat lagi dan menitipkannya kepadaku. Berdua dengan Milli, kutunggui gadis itu menulis surat.
Kugenggam erat surat yang dititipkan oleh Rauda untuk Kayon. Kemarin, seperti anak kecil, aku membujuk Mama agar diperbolehkan ikut terbang ke Singapura. Sebetulnya, Mama sering menawariku untuk ikut, saat Mama sedang ada urusan ke Singapura. Seminggu dua kali, Mama pergi ke Singapura untuk bertemu dengan rekanan bisnisnya. Mama keheranan, karena sebelum-sebelumnya aku selalu menolak ajakannya, dengan alasan tak mau ketinggalan pelajaran.
”Ini menyangkut urusan kemanusian, Ma. Please!” Mama hanya tersenyum sambil mengucel rambutku. Jadilah aku ke Singapura dengan penerbangan yang pertama.
Setengah jam sudah aku menunggu kedatangan Kayon. Aku hampir putus asa, ketika tiba-tiba kulihat kelebat bayangan tubuhnya, dari arah gedung Esplanade, sedang menyeberangi jembatan menuju ke Merlion Park. Aku berhasil meneleponnya, setelah mendapatkan nomer ponsel Kayon dari pegawai Tata Usaha sekolah. Tentu saja dengan bantuan Milli.
”Kamu ingin menemuiku untuk sebuah urusan penting? Urusan apa?” tanya Kayon dingin.
”Tentang surat-surat itu, ehm...”
”Bukankah urusannya sudah selesai? Bukan aku yang menulis surat-surat itu.”
”Iya, memang bukan kamu, tapi seorang gadis bernama Rauda.. Sekarang aku membawa surat yang kelima dan keenam untukmu.”
Mendengar kata Rauda, mata Kayon terlihat lebih menyipit, lalu kedua bibirnya mengatup seperti menahan sebuah kesedihan. Aduh.. Mama. Kenapa aku masih merasa cemburu? Kembali kusadari bahwa ternyata aku telah gagal move on. Kuserahkan kedua surat Rauda tanpa berani menatap wajahnya lagi.
Untuk beberapa jenak ia terdiam setelah membaca surat, lalu mengambil napas panjang.
”Apa yang dikatakan Rauda?” tanyaku tak sabaran, meskipun aku sudah bisa menduga-duga tentang isi surat Rauda yang terakhir.
”Ia ingin menyumbangkan ginjalnya untuk Mama,” bisik Kayon hampir tak terdengar.
Aku menggigit bibir tanpa bisa berkomentar apa-apa. Sejenak aku dan Kayon sama-sama terdiam, sebelum dering ponsel dari tas punggungku mengacaukannya. Ternyata dari Milli.
”Isya, Rauda meninggal dunia Sya. Kamu harus bisa mengajak Kayon pulang!” Ucap Milli dari sebrang sana sambil diselingi tangis. Aku berusaha menghentikan tangis Milli sambil menanyakan kebenaran berita itu. Dan berita dari Milli ternyata benar. Lututku tiba-tiba goyah. Telepon belum sempat kututup karena mendadak tanganku terkulai lemas. Tak tahu lagi aku bagaimana caranya menyampaikan berita itu kepada Kayon.
”Telepon dari siapa?”
”Dari Milli. Rauda sudah... meninggal... Kay,” ucapku lirih dan terbata. Maafkan aku, karena terlambat menyampaikan surat-surat itu. Lanjutku dalam hati.
Yang terjadi selanjutnya adalah dua tubuh yang diam membeku seperti patung ikan berkepala singa di Merlion Park. Aku tak bisa mengira sebesar apa perasaan kehilangan yang sedang melanda hati Kayon. Sekarang ia telah kehilangan Rauda. Mungkin sebentar lagi ia akan kehilangan Mamanya yang tak kunjung mendapatkan pendonor ginjal. Yang jelas, perasaan bersalahku ribuan kali lebih besar. Jauh melebihi perasaan bersalahku saat menggunjingkan ‘kelebihan’ tangan kirinya itu bersama teman-teman di kelas beberapa waktu lalu.@end@