Minggu, 07 Januari 2018

Jejakku di 2017

Hanya beberapa cerpen di Minggu Pagi, Suara Merdeka, Gadis, Story teenlit Magazine dan Majalah Ummi. Namun tiga cerpen terbit dalam buku antologi bersama teman-teman. Dan gongnya, terbitnya novelku di akhir Desember 2017. Sedihnya, di tahun 2017 aku harus kehilangan salah seorang sahabat penulis, Koko Ferdie, Semoga tahun 2018 lebih sukses lagi, aamiin.

Kamis, 14 Desember 2017

NANI-GATA



NANI-GATA
Oleh: Utami Panca Dewi
(Dimuat di majalah online gogirlmagazine pada bulan Mei)

                “Irena, wa nani-gata?” Tiga kali sudah ia mengulang pertanyaan itu. Entah kenapa ia jadi mirip Bu Narita, guru Bahasa Jepang di kelasku. Tak akan berhenti bertanya sebelum muridnya menjawab pertanyaan yang diajukannya.
                Aku tiba-tiba tersedak. Ya ampun, pedih sekali kuah bakso yang masuk sebagian ke dalam rongga hidungku. Aku sedikit sewot. Dikiranya aku ini jago Bahasa Jepang? Harusnya ia tahu bahwa untuk pelajaran Bahasa Jepang, aku hanya mendapatkan nilai C. Harusnya ia juga tahu, kalau keagresifanku untuk mendekatinya akhir-akhir ini juga karena ingin mendapat pelajaran gratis darinya. Itu pun atas saran dari Bunda.
                “Kalau tiga kali kamu bertanya dan belum kujawab juga, itu artinya aku nggak paham pertanyaanmu! Terjemahin dong!”
                Inochi tertawa lebar melihat kesewotanku. Ia murid baru, pindahan dari Jepang. Ayahnya keturunan Jepang, sementara ibunya  asli Depok. Inochi sedikit kurang beruntung, karena mempunyai teman yang jutek seperti aku. Tapi ia tak bisa menolak takdir ini: mamanya dan bundaku adalah sahabat lama. Seperti aku yang juga tak bisa menolak pesan Bunda.
                “Irena, tolong bantu Inochi, ya! Ia belum hafal jalan. Juga jalur-jalur yang harus dilewati waktu naik angkot atau bus trans.”
                Ya ampuuun… Bund. Memangnya aku guide apa? Sepuluh tahun lalu, aku memang pernah mengenal Inochi. Ia cowok enam tahun yang pemalu. Pertemanan kami tak berlangsung lama. Setahun kemudian, ia keburu dibawa sama orang tuanya pindah ke kota Kokura di wilayah Fukuoka. Sekarang keluarganya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.  Dan waktu bagaikan magician yang telah mengayunkan tongkatnya. Inochi yang sekarang benar-benar telah berubah menjadi pribadi yang berbeda. 
                “Irena, apa golongan darahmu? Nah… nah… giliran aku bertanya pakai Bahasa Indonesia, kamunya malah bengong.” Kalimatnya memangkas lamunanku. Dari mulutnya terlontar cerita tentang betapa hebohnya topik nani-gata atau golongan darah ini di Jepang. Heboh, karena dikaitkan dengan karakter atau watak seseorang.
                “Aku? B.” Jawabku singkat. Aneh betul kan dia? Dokter bukan, petugas PMI bukan, nyamuk juga bukan. Tiba-tiba saja menanyakan soal golongan darah.
                “Jadi golongan darahmu B ya? Pantesan kita cocok dalam segala hal! Si Cinta Damai dan Optimistik,” nyinyir Inochi lagi.
                “Terus golongan darahmu sendiri apa?”
                Bel tanda masuk berdentang, menggaungkan pertanyaanku di udara. Namun sebelum berpisah untuk masuk ke kelas masing-masing, dia sempat membuat dua bulatan dengan jari telunjuk dan jempol tangannya. Jadi, golongan darah kami sama. Kami setipe. Dasar mata sipit, begitu percayanya sama ramalan nani-gata.
@@
                Ram menutup teleponnya. Tampaknya kali ini ia benar-benar kecewa. Acara pulang bareng yang biasanya berujung di kafe Jingga, batal. Tentu saja bukan aku biang keladinya. Siapa lagi kalau bukan Inochi. Siang itu, ia menggamit tanganku masuk ke dalam bus trans.
                “Aku punya bukunya, Ire-chan.”
                Nah… nah. Dia mulai lagi kan? Memanggilku dengan akhiran Chan. Ihh… sok cute, sok akrab.
                “Tentang?”
                Understanding affinity by Blood type.”
                Ya ampuuun… begitu percayanya ia kepada ramalan golongan darah, sampai punya bukunya segala. Dasar alien.
                Nggak ah, aku sudah…” (Aku hampir bilang bahwa aku sudah ada janji dengan Ram, ketika tiba-tiba ia memotong kalimatku).
                “Eh, itu buku bagus, buku best seller dari Masahiko Nomi. Pokoknya kamu harus membacanya!”
Dan sore itu, waktu seolah berpihak kepadanya. Dengan patuh aku mendengarkan penjelasannya tentang karakter orang berdasarkan golongan darah. Kami berbincang ditemani dua gelas teh hangat dan dua mangkuk miramen yang dibuatkan oleh mamanya.
                “Kamu sudah punya pacar?”
                Pertanyaan konyol apalagi ini? Berani-beraninya ia menanyakan tentang hal sensitif itu. Tapi kalau kedekatanku dengan Ram dianggap lebih dari sekedar teman, berarti aku memang sudah punya pacar. Maka dengan sedikit ragu, kuanggukkan kepalaku.
                Hait (baik)… Terus, apa golongan darah pacarmu itu?”
                Aku memasang muka sebal saat menjawab,” Sudahlah Inochi, ini sama sekali nggak ilmiah tahu!”
                “Ayolah Ire-chan, orang Jepang sangat percaya dengan blood type ini!”
                “Golongan darahnya… A” ragu aku menjawab.
                Lalu ia mulai membuka halaman tertentu dari buku di tangannya. Menganalisa tentang kemungkinan kelanjutan hubunganku dengan Si Type A (yang tentu saja ia tidak tahu bahwa Ram-lah orangnya).
                Dan aku menghentikan suapan miramen-ku ketika ia mengemukakan analisanya. Menurut Inochi, type A tidak cocok denganku yang memiliki sifat sulit dipahami.
                “Type A orangnya keras kepala dan emosional, Ire-chan. Bagaimana ia bisa cocok denganmu yang suka mengikuti kata hatimu sendiri?”
                Damn. Kalau saja dia bukan anak dari sahabatnya Bunda, sudah kutinggal pulang dia tanpa harus berpamitan dengan mamanya segala. Namun bagaimanapun juga aku masih gadis yang tahu sopan santun, yang mampu menyembunyikan kekesalan di balik senyum manisku.
                Hape di meja bergetar, membuyarkan lamunanku. Ada pesan line masuk, dari Ram. Kubaca pesannya dengan perasaan was-was.
                Kamu lebih memilih berkencan dengan Si Jepang itu daripada pulang bareng aku? Kutunggu penjelasanmu, Irena.
                Stiker bergambar wajah kesal.
                Ram cemburu. Itu jelas. Akulah  yang terlalu. Tapi lebih-lebih lagi, Inochi-lah yang sungguh terlalu. Namun harusnya Ram juga bisa memahami posisiku, dong. Inochi anak baru, dan akulah satu-satunya teman yang sudah pernah mengenalnya semasa kecil.
Diam-diam aku mulai menganalisa hubunganku dengan Ram yang baru mau jalan dua bulan. Kenapa selalu saja ada pertengkaran? Sial. Kusadari atau pun tidak, rupanya kini aku mulai terpengaruh dengan omongan Inochi tentang ramalan berdasarkan golongan darah itu.
@@
                Bel pulang sekolah sudah berlalu beberapa menit. Sekolah mulai sepi. Kulangkahkan kaki menyusuri koridor sekolah. Jalan terdekat menuju ke lapangan belakang, tempat anak-anak PMR biasa berkumpul. Langkahku terhenti oleh suara panggilan yang tak asing lagi di telingaku.
                “Ire-chan…”
                Inochi tersenyum dalam balutan kaos putih berlogo palang merah. Jadi dia ikut ekstra kurikuler PMR juga? Ampun deh. Bisa pecah perang dunia ketiga nanti. Ram adalah seniorku di PMR. Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Ram, bahwa bukan aku yang mengajak Inochi untuk ikut eks-kul PMR?
                “Ire-chan, Mama nyaranin aku untuk ikut PMR,” ucapnya, seperti tahu pertanyaan yang tengah berkecamuk di kepalaku.
“Bodo…” Aku terus melangkah tanpa menoleh ke arahnya. Dan ia masih saja mengikutiku, bahkan mulai menjajari langkahku.
 “Sebetulnya aku suka juga sih, kegiatan palang merah. Apalagi kalau bisa mengetes golongan darah semua teman. Aku akan membuktikan kepadamu, bahwa teori keterkaitan golongan darah dengan karakter seseorang itu  benar adanya.”
Di ujung koridor, terdapat ruang kecil markas PMR. Dan diujung koridor itu, seseorang sedang berdiri menjulang dengan tatapan menghunjam ke arahku. Spontan langkahku terhenti.
“Siapa itu?” tanya Inochi cemas.
“Dia Ram, ketua PMR sekolah kita.”
“Ahaaa…. Ram Senpai (Ram, kakak senior)…”
@@
               
Tubuh Inochi tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja menjalani transfusi darah. Seorang perawat sedang menyelipkan jarum halus di jaringan kulit perutnya. Obat desferal akan masuk melalui syringe driver yang dipasang melalui jarum halus itu. Desferal adalah obat untuk menetralkan zat besi akibat seringnya ditransfusi. Obat itu akan mengalir perlahan ke dalam tubuh Inochi selama 7 sampai 8 jam. Seperti itulah penjelasan yang kudengar dari Tante Ruti, mamanya Inochi. Setelah tugasnya selesai, perawat itu segera berpamitan meninggalkan kami.
Gambatte kudasai (terus berjuang), Ochi…” ucapku serak. Rasa haru menguasaiku, menghadirkan bening di kedua sudut mataku. Betapa tidak? Inochi yang selama ini jail dan usil, mendadak terbaring lemah dengan wajah sepucat mayat.
Dozo... Dozo arigato gozaimasu (terima kasih banyak), Ire-chan. Kamu telah merelakan darahmu mengalir di tubuhku. Kamu tahu nggak? Setiap katup dalam jantungku terbuka lebar, seolah mempersilakan setiap butir darahmu memasuki ruang jantungku.”
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Semakin kucoba untuk menyusun kata, lidahku semakin terasa kelu. Sementara mataku justru mengkhianatiku dengan membeberkan kesedihanku.
“Hai… kamu menangis untukku Irena? Jangan cemas, sebentar lagi aku juga sembuh. Thalasemia major ini memang menyiksaku, karena aku harus melakukan transfusi secara berkala. Tetapi obat desferal telah memberiku harapan hidup yang lebih baik.”
“Harusnya kamu nggak usah  ikut eks-kul PMR, Ochiiii…” rintihku.
“Maafkan aku, Ire-chan. Aku telah membohongimu dalam banyak hal. Tentang Mama yang nyaranin aku masuk PMR, tentang ketidak cocokanmu dengan Ram Senpai. Aku berbohong hanya karena ingin lebih dekat denganmu.  Darah kita se-type, dan itu memudahkanku untuk mencari pendonor, mengingat golongan darah B adalah minoritas. Aku jahat bukan? Kamu berhak menghukumku sekarang!”
Lalu dengan alasan apa aku harus menghukum Inochi? Karena telah mengelabuhiku dengan segala macam teori tentang nani-gata itu? Sementara di sudut hatiku aku mulai yakin bahwa Ram memang bukan type yang cocok untukku. Kecemburuan dalam hatinya telah membuat Ram tega mem-bully Inochi. Sore itu disuruhnya Inochi lari keliling lapangan sebanyak  lima kali dalam acara penyambutan terhadap ‘anggota baru’. Pada putaran keempat, tubuh Inochi limbung dan jatuh. Sayangnya, Inochi tak pernah menuliskan riwayat penyakitnya dalam formulir pendaftaran yang diserahkannya kepada Ram.
“Aku tahu kamu nggak akan tega menghukumku, Ire-chan. Bagaimana kalau sebagai hukumannya, kutemani kamu nonton drakor sepulangku dari rumah sakit nanti?” tawar Inochi sambil tersenyum. Alisnya naik turun dengan lucu, khas Inochi kalau sedang merayu. Alien yang satu ini memang nekat. Masih terbaring sakit saja sudah berani merayuku untuk nonton bareng.
“Apa dulu judulnya?” tanyaku sambil menyusut ingus dengan tisu.
My Boyfriend is Type B.”
Jawaban ‘nggak ah’ dari bibirku sempat membuat senyumnya meredup. Namun sekejap kemudian senyumnya kembali melebar setelah kuralat jawabanku menjadi ‘nggak nolak.’
@end@

Rabu, 29 November 2017

Dimuat di Majalah UMMI, edisi bulan September: TABUNGAN BURHAN



TABUNGAN BURHAN
Oleh: Utami Panca Dewi

            Burhan menimang-nimang buku tabungannya. Saldo terakhir sudah mencapai satu juta empat ratus empat puluh lima ribu rupiah. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang tirus. Sudah terbayang di pelupuk matanya, wajah emak yang pasti sumringah saat mendengar rencananya.
            Sampai di rumah, tangisan anaknya yang ketiga menyambut Burhan. Emak berusaha menenangkan Agil yang sedang duduk sambil menangis.
            “Kenapa lagi dengan Agil?” tanya Burhan kepada istrinya yang sedang membuat minuman. Burhan memberi nama Ragil untuk anaknya yang ketiga. Artinya adalah si bungsu. Tetapi kalau sekarang Astuti sedang hamil anaknya yang keempat, haruskah ia mengganti nama Agil? Ah... Siapa pun nama anaknya, hidup tetap harus berjalan. Mungkin nanti adiknya Agil akan ia beri nama Pungkas, yang artinya anak terakhir. Burhan berpikir sambil tersenyum.
            “Kang!” tegur Astuti sambil menyerahkan segelas kopi.
            Burhan tersentak kaget.
            “Sudah dijawab kok malah melamun loh!” Protes Astuti sambil geleng-geleng kepala.
            “Oh ya? Jadi, kenapa Agil menangis?” Bondan mengulangi pertanyaannya sebelum duduk dan mulai menyeruput kopi.
            “Agil ingin membeli es jus di warung Bu Siti, tetapi esnya habis,” jelas Astuti.
            “Kenapa harus nangis?”
            “Ya, udaranya panas begini? Kang Burhan sih, susah dibilangi. Tabungan Kang Burhan itu sudah cukup untuk membeli kulkas. Mungkin nanti aku bisa membuat es mambo untuk nambah-nambah penghasilan.”
Astuti menjelaskan secara panjang lebar. Namun ujung-unjungnya pasti sama. Selalu ingin menguras habis tabungannya. Burhan mengangkat bahu. Astuti bertambah kesal.
@@
            Burhan mengepak baju-baju yang sudah disetrika oleh Marni, ke dalam plastik-plastik besar transparan. Beberapa kali ia harus mencocokkan macam baju yang dikemasnya dengan data yang disodorkan oleh Marni. Ia tidak mau terjadi insiden seperti kemarin.  Cucian baju Bu Anita tertukar dengan milik Pak Doni. Burhan jadi kena tegur Bu Tika.
            Hari ini ia harus mengantarkan baju-baju itu ke pelanggan. Sudah 3 tahun ini Burhan bekerja di Kartika Loundry and Dry Cleaning milik Bu Tika. Sebelumnya ia selalu gonta-ganti pekerjaan. Bu Tika orangnya baik. Makanya Burhan betah bekerja di Kartika Loundry. Bu Tika selalu memberi uang lembur jika pulangnya melebihi batas jam kerja yang telah disepakati. Uang lembur itulah yang selama ini ia sisihkan untuk ditabung. Burhan memiliki sebuah rencana besar. Dan Astuti tidak pernah tahu itu.
            “Itu sprei milik Bu Manda jangan diantar dulu. Orangnya sedang ke luar kota.” Instruksi dari Bu Tika membuat Burhan sejenak menghentikan kegiatannya.
“Baik Bu,” jawab Burhan patuh. Disisihkannya bungkusan plastik berisi sprei berwarna merah jambu itu ke dalam kontainer plastik besar di sebelahnya.
“Burhan, saya ada penawaran...”
“Penawaran apa Bu?” tanya Burhan penasaran.
“Saya ingin membeli satu mesin cuci lagi untuk menggantikan salah satu mesin cuci kita. Mesin cuci kita sebetulnya masih baik, hanya daya tampungnya yang kurang banyak. Kamu  mau membeli mesin cuci yang lama? Nanti istrimu bisa membuka usaha loundry sendiri di rumah?” papar Bu Tika panjang lebar.
“Bu Tika mintanya berapa Bu?”
“Lima ratus ribu saja. Itu merk-nya bagus loh. Paten.”
Burhan berpikir keras. Seandainya tabungannya ia gunakan untuk membeli mesin cuci, berarti tabungannya akan berkurang lima ratus ribu. Itu artinya, tahun ini rencananya akan gagal lagi. Haruskah ia menunda rencananya sampai tahun depan? Akhirnya Burhan menggeleng pelan.
“Baiklah kalau begitu, mesin cucinya akan aku tawarkan kepada Marni atau Jono.”
Bu Tika berlalu. Burhan menyesali keputusannya tadi. Kenapa ia harus menolak tawaran Bu Tika? Tawaran yang datangnya belum tentu setahun sekali. Mungkin belum rejekinya. Lain kali, kalau memang sudah menjadi jatah rejekinya, pasti Bu Tika akan membeli mesin cuci baru lagi, dan menawarkan yang lama kepadanya, hiburnya pasrah.
@@
“Tidak bisa kurang Pak?”
“Itu sudah harga pas. Nanti kalau Mase membelinya pas menjelang hari raya kurban, harganya bisa naik lagi menjadi dua juta.”
Burhan berpikir keras. Kambing berumur satu setengah tahun itu memang gemuk. Cocok dan memenuhi syarat untuk menjadi hewan kurban.
“Uang saya cuma satu juta enam ratus ribu, Pak. Mbok dikurangi dikit to harganya,” rayu Burhan. Dipandangnya kambing itu sambil menelan ludah.
“Ya sudah Mas, satu tujuh lima dah. Itu laba saya sudah mepet loh!” Pak Brewok, penjual kambing itu akhirnya menyerah.
“Lah yang seratus lima puluh ribu?”
“Katanya Mase minggu ini ada lemburan?”
Burhan mengangguk mengiyakan.
“Ya kekurangannya boleh dibayar Sabtu depan, wis ra po po.”
Akhirnya Burhan jadi juga menuntun kambing pulang ke rumah. Emak menyambut dengan gembira. Sudah lama emak ingin berkurban seekor kambing seperti orang-orang di kampungnya. Ia ingat pembicaraannya dengan Emak beberapa bulan silam.
“Mak iri Le, sama Mbak Siti, Pak Haji dan Bu Atun.”
“Kenapa Mak?”
“Mereka selalu berkurban seekor kambing setiap kali hari raya Idul Adha tiba. Pak Haji malah berkurban seekor sapi.”
“Tapi mereka orang mampu Mak, sedangkan kita?” tukas Burhan.
“Tapi berkurban itu perintah Allah, Le. Ada kok dalam Al-Qur’an.” Emak tidak mau mengalah.
Emak memang sangat ingin ikut berkurban. Menjadi penerima daging kurban memang menyenangkan. Tetapi tentu lebih senang lagi kalau bisa mempersembahkan daging kurban. Mata Emak berkaca-kaca. Dan Burhan bertekad untuk mewujudkan keinginan emak itu.
@@
“Apa Kang? Tabunganmu malah kau belikan kambing? Memangnya kita orang kaya, sehingga harus...” Burhan menutup bibir Astuti dengan punggung tangannya.
“Aku ingin berkurban atas nama emak. Yah, aku ingin sekali-kali memberikan kebahagiaan kepada emak.”
“Tapi Kang...” Astuti ingin protes. Tapi Burhan segera meletakkan telunjuknya di depan mulutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat itulah emak masuk.
“Han, kambingnya betul-betul gemuk ya?” ucap emak. Senyum tak pernah lepas dari wajah tuanya.
“Iya dong Mak. Kambing untuk berkurban memang harus yang gemuk dan sudah cukup umur. Oh ya satu lagi, kambing itu harus sehat,” jawab Burhan dengan mata berbinar-binar.
Hari Raya Idul Adha masih kurang beberapa minggu lagi. Kambing itu harus di beri makan. Astuti tidak mungkin mencarikan rumput dan daun-daunan. Apa kata tetangga nanti, kalau melihat Astuti menggendong seikat daun-daun segar, sementara perutnya sudah semakin membesar. Tidak mungkin Burhan memberi tugas kepada ank-anaknya. Sulungnya baru delapan tahun. Akhirnya emak mengalah. Emak yang akan mencari dedaunan untuk makanan kambing.
@@
Hari itu Bondan boleh pulang lebih awal. Syaratnya, ia harus membawa segulung karpet untuk dicuci di rumah. Bu Tika sangat senang dengan cara kerja Burhan yang cekatan. Oleh karena itu, kadang-kadang Bu Tika mengijinkan Burhan untuk membawa pulang cucian yang bisa dikerjakan di rumah.
Sampai di ujung gang, langkahnya terhenti. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di rumahnya. Tetangganya berkumpul di rumah sambil berbisik-bisik. Wajah mereka satu warna. Sedih dan prihatin. Hati Burhan merasa tak enak. Ia mempercepat langkahnya dan menghambur ke dalam rumah. Di dalam bilik, ia menjumpai Astuti sedang menangis. Mak terbujur kaku di pembaringan.
“Apa yang telah terjadi Tuti? Ayo katakan, apa yang telah  terjadi dengan Emak?”
Burhan mengguncang-guncang tubuh Astuti.
“Emak, Kang. Emak terserempet mobil saat menyeberang jalan sambil menggendong dedaunan...” Astuti kembali menangis. Ketiga anaknya duduk berjejer di tepi pembaringan. Menatap kosong ke arah jasad neneknya.
“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun... Dua hari lagi Mak. Kurang dua hari lagi keinginan Mak akan terkabul. Mak bisa berkurban. Tetapi kenapa Mak pergi begitu cepat?” bisik Burhan parau.
“Istighfar ya Han. Rejeki, jodoh dan kematian itu semua sudah diatur oleh Allah. Ikhlaskanlah. Insyaallah niat Emakmu untuk berkurban sudah dicatat oleh malaikat.” Pak Haji menepuk lembut bahu Burhan. Burhan semakin tergugu.
@@