Senin, 30 Januari 2017

Cerpen: AIR MATA YANG TERPERANGKAP DALAM SEPOTONG KUE (dimuat di SKH Suara Merdeka, 22 Januari 2017)




AIR MATA YANG TERPERANGKAP DALAM SEPOTONG KUE
 (dimuat di SKH Suara Merdeka, 22 Januari 2017)
Oleh: Utami Panca Dewi

            A Ma masih di kelenteng – melakukan sembahyang untuk leluhur –  ketika Lilian sibuk mengelus-elus sepotong kue keranjang yang paling kecil pada tumpukan paling atas. Lilian memutuskan untuk tinggal di rumah dan  tidak mengikuti  langkah A Ma. Bukan saja karena ia tak mau repot menahan mulutnya dari keharusan bersin berulang-ulang setiap kali menghirup aroma dupa yang terbakar. Bukan pula karena sengaja ingin menyakiti hati A Ma. Ia ingin di rumah saja, meresapi setiap kesedihan yang terperangkap dalam kue-kue keranjang berbentuk bundar dan berwarna cokelat itu.
            Ini hari terakhir sebelum tahun baru tiba. Dan hidangan Imlek telah disiapkan A Ma untuk menyambut datangnya sinchia. Sepiring siu mie (mie panjang umur), teh telur, jeruk mandarin, daging ikan, ayam dan babi. Termasuk setumpuk kue keranjang tiga tingkat yang semakin ke atas semakin mengecil dan mengerucut. 
            “Kau tahu, kue keranjang tidak selamanya manis?”
          Lilian meraba potongan kue keranjang yang ada dalam genggamannya. Ia berusaha memercayai setiap ucapan yang keluar dari bibir A Ma, meskipun terkadang sulit.
            “Ada kesedihan yang terperangkap dalam sepotong kue keranjang, sehingga rasanya jauh dari manis. Rasanya justru seperti rasa air mata.”
            Seperti apa rasanya air mata itu? Harusnya Lilian tak perlu lagi bertanya. Lilian  kerap merasakannya ketika ia menangis. Butiran air mata itu akan mengalir dalam mulutnya yang setengah terbuka. Mula-mula air mata itu rasanya tawar. Namun semakin lama akan semakin terasa asin seiring dengan semakin pekatnya kesedihan yang dirasakannya.
Lilian selalu menghabiskan kue keranjang terkecil sampai potongan terakhir. Dan rasanya  tetap saja manis. Sangat berbeda dengan air mata dan ingusnya yang terasa asin di lidah. Kata A Ma, Lilian hanya bisa merasakan asinnya kesedihan di dalam kue keranjang, jika ia telah berhasil membuang rasa sedih yang terperangkap dalam jiwanya. Bagaimana mungkin?  Seperti rasa kesepian, kesedihan selalu menguntitnya sepanjang tahun, sampai datangnya tahun yang baru.
“A Ma bilang juga apa? Habiskan kesedihanmu sebelum tahun baru tiba! Karena jika saat sinchia tiba kau masih bersedih, kesedihanmu akan awet sepanjang tahun!” Begitu selalu pesan A Ma di hari terakhir sebelum sinchia tiba.
            Lilian mengangguk meskipun tahu ia tak akan bisa. Perasaan kosong yang dialaminya tak pernah bisa dihilangkannya semudah ia menyantap potongan-potongan kue keranjang. Perasaannya semakin senyap setiap kali A Ma menjawab ketus pertanyaannya, tentang mamanya.
            “Mama kau telah menjadi hantu. Dan orang yang telah jadi hantu tak perlu disebut-sebut lagi namanya di rumah ini, apalagi disembahyangkan! Mengerti tidak?”
            Lilian mengkerut mendengar jawaban A Ma yang selalu sama itu. Sudah lama sekali, Lilian belum pernah bertemu lagi dengan mamanya. Mungkin sejak ia masih belum sekolah. Lilian samar-samar teringat, hari terakhir ia bersama Mama. Waktu itu menjelang tahun Baru Imlek seperti saat ini. Tangannya yang mungil digandeng Mama menuju Kelenteng. Sepulang dari Kelenteng, Mama menangis dan masih saja menangis saat mengemasi pakaian dalam sebuah koper. A Ma marah, namun Lilian kecil tidak tahu alasan kemarahan A Ma. Yang ia tahu, sejak saat itu mamanya tidak pernah kembali ke rumah.
A Ma bilang, Mama sudah mati. Tapi di mana kuburnya? Tidak pernah ada penjelasan pasti dari A Ma. Bahkan, secuil potretnya pun tak pernah dijumpai Lilian. Ia telah mencarinya di setiap sudut rumah. Di bawah kasur, di bawah meja sembahyang, di balik pigura-pigura foto yang terpasang di dinding, semuanya nihil. Kata A Ma, mamanya telah menjadi hantu. Dan hantu, tak perlu dipasang potretnya di dalam rumah. Bisa membawa sial. Begitu rapatnya A Ma menyimpan rahasia tentang Mama, di sudut paling gelap dalam hatinya, sehingga Lilian tak pernah bisa untuk menyentuhnya.
            Seseorang pernah mengatakan bahwa mamanya cantik seperti dirinya. Bermata sipit, rambut lurus dan kulit putih serupa pualam. Seseorang yang mengatakan bahwa ia harus menjadi seorang ibu, jika ingin mengenal sosok mamanya. Namun cerita itu tak sanggup menutupi kekosongan dalam jiwanya.
            “Bagaimana cara membuat kue keranjang dengan rasa air mata?” tanya Lilian suatu ketika.
             “Kau tuang cairan tepung beras ketan ke dalam cairan santan dan  gula yang telah mendidih dalam wajan, sambil terus diaduk! Teteskan sedikit demi sedikit kesedihanmu dalam adonan!”
            Kalau semua kesedihan sudah tertuang dalam kue keranjang, maka Lilian tidak akan merasa sedih lagi. Kebahagiaan akan menyertainya sepanjang tahun hingga tiba waktunya menyambut tahun baru berikutnya. Begitulah pendapat A Ma.
            Lilian telah memutuskan untuk mencoba membuat kue keranjang dengan rasa yang berbeda. Ia telah membeli dua kilogram tepung beras ketan, satu setengah kilogram gula merah, satu setengah kilogram gula pasir, santan, dan bahan-bahan yang lainnya.
            Ia hanya tinggal mengumpulkan kesedihan demi kesedihan yang puluhan tahun telah bersemayam dalam jiwanya. Menuangkannya sedikit demi sedikit dalam adonan kue keranjang yang akan dibuatnya. Lilian tak mau A Ma mendapat malu, karena air matanya yang terus menetes saat hari sinchia tiba.
            Acara ‘Gelar Tuk Panjang, Sedepa jadi Sehasta’ selalu bisa mengumpulkan keluarga A Ma, baik kerabat dekat maupun kerabat jauh. Mereka akan makan bersama di meja panjang dengan posisi saling berhadapan di tanggal satu bulan satu. Acara yang melambangkan persaudaraan dan kebersamaan ini, bisa menyatukan kerabat dekat maupun jauh. Tapi tak pernah ada Mama dalam acara itu. Itulah yang membuat Lilian tak bisa menanggalkan kesedihannya.
            Setelah bahan-bahan yang akan diolah sudah siap semua di meja dapur, Lilian pun berdiam diri sambil memejamkan mata. Ia berharap Thian Ti (Kaisar Langit) akan mengirimkan Cuo Sen (Dewa Dapur) untuk membantunya mengumpulkan kesedihan-kesedihan dalam jiwanya. Lilian berharap agar semua kesedihan yang dirasakannya, akan terperangkap selamanya di dalam kue keranjang yang akan dibuatnya.
            Dinyalakannya api, sambil mengingat-ingat wajah mamanya. Kegagalan membuat kesedihan itu datang dan mengeja wantah menjadi butiran-butiran air mata. Diaduknya air santan dan gula di dalam wajan, dengan air mata yang terus menderas dan jatuh satu demi satu ke dalam wajan.
            Lalu dimasukkannya tepung beras ketan yang sudah dicairkan, sedikit demi sedikit. Ia selalu cemburu kepada Ling, Han Han atau saudara-saudaranya yang memiliki orang tua utuh. Kecemburuan yang melahirkan kesedihan dan air mata. Adonan yang diaduknya semakin pekat.
                Bayangan seorang lelaki berkelebat dalam pikirannya. Lelaki penjaga kelenteng yang selalu menghiburnya dan meyakinkan dirinya bahwa suatu saat ia pasti akan bertemu dengan mamanya. Lelaki itu kini tak pernah menjumpainya lagi, setelah pertemuannya yang terakhir tiga bulan lalu. Air matanya semakin membanjir dan adonan di depannya semakin beraroma asin.
            “Kamu harus percaya kepadaku,” ucap lelaki itu. Lilian memutuskan untuk memercayai lelaki itu, seperti selama ini ia telah menaruh kepercayaan terhadap A Ma. Pun saat ia meminta sesuatu yang seharusnya dijaga oleh Lilian, dengan rela Lilian memberikannya. Lilian pasrah, bagai rembulan yang tertusuk ilalang.
            “Kau akan menjadi seorang ibu, dan selanjutnya kau akan bertemu dengan sosok seorang ibu, yakni di dalam dirimu sendiri,” hibur lelaki itu. Lilian mengangguk. Ia masih terus berharap bahwa lelaki itu akan terus mendampinginya sampai saatnya ia menjadi seorang ibu. Namun seperti juga mamanya, lelaki itu tiba-tiba menghilang. Lilian panik. Apalagi melihat reaksi A Ma.
            “Kau mengulang lagi kisah lama Mamamu. Maaf jika A Ma harus mengatakan hal ini kepadamu! Karena mungkin sebentar lagi, A Ma harus menganggapmu  sebagai hantu.”
            Lilian terengah-engah, menuntaskan kesedihan terakhir yang diperas dan ditumpahkannya ke dalam adonan. Tubuhnya menjadi lunglai, bagai selembar kain lap pel yang terjelepak di sudut dapur. Sementara jiwanya melayang-layang. Jiwa yang tak diberatkan oleh kesedihan lagi. Kesedihan seluruhnya telah tertumpah di dalam kue keranjang yang baru saja matang dan dicetaknya dalam tiga cetakan bundar berukuran tak sama.
            Suara A Ma yang memasuki rumah menyadarkan Lilian dari lamunan. Sepertinya A Ma pulang dari kelenteng bersama dengan seorang wanita. Perempuan itu berjalan dengan muka tertunduk di belakang A Ma. Lilian terkejut. Wajah itu mirip sekali dengan wajahnya, hanya saja lebih tua beberapa belas tahun.
            “Jadi Lilian sudah…”
            “Dengan kerinduan ingin bertemu denganmu yang dibawanya sampai mati,” ucap A Ma sambil mengangguk.
            “Aku Ibu yang jahat Ma… Aku telah menelantarkan anak itu!” tangis perempuan itu sambil menutup mukanya.
            Jadi ternyata Mama bukan hantu, dan justru sekarang akulah yang hantu. Pikir Lilian sambil mengelus perutnya. Ia tersenyum dan bersyukur, karena tak harus menyia-nyiakan calon anaknya, seperti yang telah dilakukan mamanya selama ini. Jika nanti mamanya mencoba kue keranjang yang telah dibuatnya, Lilian tak tahu pasti. Manis atau asinkah yang akan dirasakan oleh lidah perempuan itu?
@Tamat@

Senin, 23 Januari 2017

Cerma: SUATU HARI NANTI (dimuat di Surat Kabar Minggu Pagi, Jumat 20 Januari 2017)



SUATU HARI NANTI
(dimuat di Surat Kabar Minggu Pagi, Jum'at 20 Januari 2017)
 
Oleh: Utami Panca Dewi

 
           
            Suatu hari nanti Za, kau akan tahu bahwa kau seperti Oksigen. Aku membutuhkanmu, tapi kau berikan kebaikanmu untuk semua orang. Dan saat kau tahu hal itu, kau justru akan menjauhiku. Aku terlalu posesif? Tidak juga. Aku sahabatmu sejak kecil. Kata Mama, bahkan sejak kita masih dalam kandungan. Mamaku dan Bundamu saling bersahabat, dan dua sahabat itu mengandung dalam waktu yang hampir bersamaan. Kelahiran kita pun hanya berselisih hari. Persahabatan kedua ibu kita ternyata diwariskan kepada kita.  
            Kau dan aku tumbuh dan melewati masa kanak-kanak bersama. Kau  pasti mengingatku sebagai seorang anak yang cengeng. Aku juga mengingatmu sebagai seseorang yang selalu ingin melindungiku.
            Tapi yang paling aku ingat betul, justru pertemuan terakhir kita sebelum aku pergi ke sebuah Rumah Sakit besar di Semarang. Waktu itu kita sedang duduk-duduk di taman kompleks. Hari menjelang sore. Cahaya matahari menerobos celah-celah daun flamboyant dan jatuh di rambutmu. Efeknya, rambutmu jadi kelihatan memerah seperti rambut jagung. Sungguh, aku menyukai warna rambutmu yang tersepuh oleh cahaya matahari.
            Aku menawarimu bola-bola coklat yang kubuat bersama Mama. Kau mengambil satu dan menggigitnya sedikit, sekedar untuk menyenangkanku. Aku tidak pernah lupa, Za. Kau tidak menyukai coklat. Tapi demi aku, kau bahkan mengulumnya, sampai lama. Kau biarkan coklatnya melumer di mulutmu.
            Kau tersenyum. Kau bilang tidak ada makanan gratis yang tidak enak. Apalagi jika dibuat oleh sahabat sendiri. Aku membalas senyummu sambil menatap binar matamu yang penuh kebohongan itu. Mulutmu bisa membohongiku tapi matamu tidak. Kau kembali menekuri halaman-halaman bukumu.
            Kau tidak menyadari bahwa kau adalah oksigen bagiku, Za. Kau yang bisa mengerti tentang kesukaanku, kebiasaanku, perbedaanku dari anak-anak yang lain. Kau memahamiku. Maka aku juga berusaha memahamimu. Kau masih ingat saat kau mengajakku berlari mengejar layang-layang yang tersangkut di atap rumah Pak Kunto? Kau mengajakku untuk meminta ijin kepada Pak Kunto, tapi aku menolaknya.  Aku terlalu penakut. Aku lebih rela untuk membuka tabunganku, membeli seutas layang-layang lengkap dengan benangnya lalu menyerahkannya kepadamu. Matamu berbinar kala itu.
            “Kau bahkan membelikan yang lebih besar Sal?” tanyamu yang tak membutuhkan jawaban dariku. Lalu kau mengajakku menerbangkan layang-layang itu bersama. Aku mengikuti langkahmu menuju ke lapangan kompleks. Aku tahu, kau ingin agar aku menyukai permainan itu. Dan aku berusaha menyukainya karenamu.
            Mama selalu menyuruhku untuk meneladanimu, Za. Kepintaranmu, keberanianmu, kelincahanmu. Aku mengagumimu, tapi aku tak bisa menjadi seperti dirimu. Aku tetap pemurung, pendiam dan lebih suka menyendiri.
            Waktu terus berjalan membawa kita keluar dari dunia kanak-kanak yang damai dan berwarna. Kau tumbuh menjulang, Za. Mama menjadi iri dengan pertumbuhan tubuhmu.
            “Kau harus lebih banyak berolah raga, Sal. Lihat itu si Reza, tubuhnya atletis kan? Mau Mama ikutkan les karate?”
            Aku hanya menggeleng.
            Lain kali Mama akan bilang, “Kau harus lebih berani, lebih banyak bergaul. Lihat tuh, Reza terpilih menjadi ketua OSIS di sekolahnya.”
             Aku kurang suka dibanding-bandingkan seperti itu. Apakah seseorang yang memiliki rasi bintang sama harus memiliki sifat yang sama pula? Tentu saja pertanyaan itu hanya kusimpan dalam hati, tanpa berani mengungkapkannya kepada Mama. Bahkan perasaan asing dan aneh yang selama ini menggangguku, tak berani kuungkapkan kepada Mama.
            Ada yang berubah setelah kita remaja, Za. Kau mulai jarang bermain ke rumah karena memiliki teman-teman yang baru. Aku tahu, kau begitu cemerlang, sehingga mampu menembus sekolah favorit seperti yang dikehendaki Bundamu. Sementara aku tidak bisa. Aku semakin terpuruk dalam duniaku yang asing, yang sungguh berbeda dari duniamu.
            Kau mulai mengajak teman-temanmu ke rumah. Teman-temanmu yang juga sesempurna dirimu. Kau mulai sibuk dengan teman-temanmu dan perlahan melupakanku. Waktumu mulai berkurang banyak untukku. Kau oksigen Za, dan aku manusia biasa. Aku mulai belajar meredakan kesakitan ini karena kehilanganmu.
            Sebetulnya pertemuan terakhir itu digagas oleh Mama. Mama ingin aku bahagia di saat terakhirku sebelum aku masuk rumah sakit. Lalu Mamaku menemui Bundamu. Mengemis sedikit waktuku agar mau menemuiku. Kau terkejut saat kuceritakan apa yang sedang aku alami. Namun kau berusaha memasang wajah datar. Tapi matamu tak bisa membohongiku. Apakah kau merasa kehilangan, Za? Tentu saja tidak. Kau oksigen dan kau memiliki banyak teman. Justru aku yang akan kehilanganmu nantinya, setelah aku memutuskan untuk menjauhimu. Setelah aku merelakan untuk meninggalkan dunia yang asing ini. Dunia yang membuatku terombang-ambing dalam ketidak pastian rasa.
            Kau menyerahkan buku yang tengah kau baca di saat pertemuan terakhir kita. Buku psikologi tentang kiat-kiat menjadi seorang remaja yang keren. Aku tersenyum. Mencoba mengungkapkan rasa terima kasihku tanpa kata.
             Kau bertanya kenapa aku harus melakukan operasi itu Za? Aku tak bisa menjelaskannya secara gamblang. Kau seharusnya tahu, sejak dulu aku kurang pandai merangkai kata-kata. Seandainya kau tahu, betapa terpukulnya Mama saat menjumpaiku mencuri-curi baju miliknya untuk kupakai. Lalu kujalani serangkaian konsultasi dengan konselor kesehatan mental profesional untuk melakukan diagnosis dan psikoterapi. Diagnosis dari gangguan disforia gender dan surat rekomendasi resmi dari terapis membolehkanku untuk melakukan terapi hormon di bawah pengawasan dokter. Setelahnya, Mama memutuskan untuk menuruti anjuran dokter untuk melakukan operasi.
            Dan sekarang aku telah menjadi seseorang yang berbeda. Suatu hari nanti Za, kalau kita sempat bertemu, semoga kau tetap bisa memahamiku seperti dulu. Meski kau tak bisa lagi memanggilku Salman Ferdian. Karena pengadilan telah memutuskan aku untuk berganti nama menjadi Salma Ferdiana. @@

Kamis, 29 Desember 2016

KALEIDOSKOP 2017


Alhamdulillah 2016 hampir berlalu meninggalkan jejak kenangan yang manis. Hadirnya si kecil Keenan, mengawali tahun dengan kesibukan baru sebagai seorang ibu. Menang juara harapan di Lomba cerpen Taman Fiksi, lalu dibukukan bersama para pemenang lainnya dengan judul 'Menari di Atas Pecahan Beling'. Cerpen yang kalah lomba ditayangkan di Femina. Satu cerpen dimuat di SKH Pikiran Rakyat. Menjadi juara 2 lomba cerber Femina. Lalu satu cerpen tayang di majalah Gadis. Menjadi juara 2 dan juara harapan lomba cerpen Kisah-kisah Kota Lama. Satu cerpen dimuat di SKH Suara Merdeka. Meluncurkan novel pertama bergenre remaja. Aku tahu tahun 2017 akan semakin sulit, mengingat beberapa media cetak yang tutup usia. Lalu muncul nama-nama penulis baru dengan karya-karya yang sungguh menakjubkan. Tapi aku akan tetap menulis, minimal untuk menyenangkan diriku sendiri. Bismillah memasuki 2017.

Jumat, 26 Agustus 2016

Cerpen: KEBUN KELAPA BAPAK (dimuat di SKH Suara Merdeka, Minggu, 21 Agustus 2016)



KEBUN KELAPA BAPAK
Oleh: Utami Panca Dewi
 (dimuat di SKH Suara Merdeka, Minggu, 21 Agustus 2016)

            Jadi, kebun kelapa itu akan dijual untuk kepentingan pakde Parsidi pergi ‘ngulon’ – menjalankan rukun Islam yang kelima. Kebun itu sebelumnya memang milik bapak. Warisan dari simbah untuk anaknya yang wuragil. Kebun yang berdampingan dengan kebun milik pakde Parsidi, anaknya simbah yang pertama. Kedua kakak bapak yang lain tidak mendapatkan warisan karena meninggal dunia sewaktu masih bujang. Namun semenjak bapak menggadaikan kebun itu kepada pakde - demi kelanjutan studyku di Perguruan Tinggi – surat tanah kebun kelapa itu akhirnya dikuasai pakde.
            “Beruntung Pakdemu masih mengijinkan Bapak mengambil niradari pohon kelapa yang tumbuh di kebun itu,  Le.  Jadi simbokmu masih bisa menitis dan mengolah legen menjadi gula merah untuk sangu kuliahmu. Begitupun dengan kelapanya,” begitu kata bapak saat melepas surat tanah demi mendapatkan pinjaman uang sepuluh juta rupiah, agar aku bisa merasakan bangku kuliah.
            Bapak memang lelaki Jawa tulen, yang selalu memandang setiap anugerah atau musibah dari sisi baiknya. Saat kecil aku pernah terserempet sepeda motor hingga kakiku patah. Bapak malah berkata bahwa masih untung cuma kakiku yang cidera, bukan nyawaku yang melayang ke alam baka. Pun saat bajing-bajing mulai berkeliaran menyambangi buah kelapa kami, menghabisi daging buahnya - menyebabkan buah kelapa menjadi jomblo tanpa isi. Bapak hanya berkata bahwa mungkin bapak kurang bersedekah, sehingga alam mengambil kembali hasil bumi kami melalui tupai-tupai itu. Untunglah beberapa hari kemudian datang kang Midi Kachir yang memburu kawanan tupai dengan senapan anginnya. Dia bagaikan pahlawan bagi pemilik kebun kelapa seperti kami.
            Pohon kelapa di dalam kebun bapak rata-rata sudah tua, legen/nira yang dihasilkan tak lagi bisa memenuhi bumbungyang dipasang bapak di tangkai manggar. Dan bapak selalu gagal melakukan peremajaan terhadap pohon kelapa di kebunnya. Aku tak pernah tahu penyebabnya, namun tunas kelapa yang ditanam bapak selalu mati, sebelum pupus daunnya sempat melebar menentang cahaya matahari. Berlainan betul dengan kebun milik pakde Parsidi. Tunas kelapa yang ditanam pakde selalu bisa tumbuh dengan subur. Di saat bapak menebangi pohon yang telah tua untuk dijual glugu/batangnya, pakde justru bisa memanen lebih banyak kelapa dari pohon yang tidak diambil niranya.
            Urip iku wang sinawang Le, kehidupan orang lain bisa saja tampak bahagia menurut pandangan kita. Namun bisa jadi pandangan kita salah,” begitulah kalimat yang selalu bapak ucapkan diikuti dengan ajakan untuk mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Gusti Allah. 
            Namun saat kebun yang tergadai itu benar-benar dijual sama pakde, aku benar-benar tak bisa menerimanya. Apalagi hanya dengan alasan sepele, yakni karena bapak tidak bisa melunasi hutangnya kepada pakde tepat waktu. Ke mana hilangnya rasa persaudaraan itu? Apakah luntur tergerus zaman yang disesaki dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan materiil ini?
            Seharusnya tidak semudah itu pakde memutuskan untuk menjual satu-satunya aset yang dimiliki bapak. Mengingat rumah limasan yang kami tinggali pun terletak di bagian kebun sebelah depan. Kalau tanah itu benar-benar dijual, lantas kami mau tinggal di mana? Bapak terlalu naif dengan mengatakan bahwa kelak aku pasti akan menjadi orang sukses, yang bisa membeli apapun yang kumau. Maka saat pakde mengetuk pintu rumah untuk mengatakan maksudnya, akulah satu-satunya anak yang menentang. Kedua adikku meringkuk di kamar tengah dalam dekapan simbok. Sementara bapak sendiri hanya mampu bersedekap sambil tertunduk gamang.
            “Kalau memang kebun bapakmu tidak boleh dijual, ya kamu harus melunasi hutang bapakmu, Le!”
                Seperti diguyur kuah  jangan ndesoyang biasa dibuat simbok untuk menemani nasi liwet, saat mendengar ultimatum dari pakde. Pedasnya tidak hanya memerahkan telinga, tetapi tembus sampai ke hatiku, menimbulkan nelangsa berkepanjangan. Terbayang kuliahku yang pasti akan berhenti di tengah jalan, karena tidak ada lagi sumber kehidupan yang bisa dipakai bapak untuk membiayainya. Masih terngiang jelas pesan almarhum simbah putri(nenek) saat aku masih kecil.
Le, kamu jangan mau hanya menjadi wong nderes (tukang mengambil nira pohon kelapa). Kamu harus sekolah yang tinggi supaya jadi orang yo Le...
Kalau tidak ingat bahwa aku ini adalah anak lelaki bapak satu-satunya, aku pasti sudah menangis. Tapi untuk apa? Hanya memberi contoh yang buruk kepada adik-adikku. Sependek ingatanku, pakde memang tidak pernah bersikap manis kepada bapak. Demikian juga terhadap simbah putri. Mulanya aku tak tahu mengapa bisa demikian. Setelah aku besar, simbok memberi tahuku bahwa pakde Parsidi dan bapak memiliki satu ayah tetapi lain ibu. Pakde Parsidi merasa tak adil jika simbah kakung (kakek) mewariskan kebun kelapanya kepada bapak,  dengan luas yang sama pula.
Sejak simbah putri tiada, sikap permusuhan yang ditunjukkan pakde semakin menjadi-jadi. Saat simbok membuat geplak (makanan kecil dari kelapa muda) dan srundeng (lauk berbahan dasar kelapa) untuk dijual, pakde Parsidi ikut-ikutan menyuruh mbokde Parsidi mengolah dan menjual makanan yang sama. Simbok tak mempermasalahkannya. Simbok yakin, rejeki ada yang mengatur. Justu mbokde Parsidi yang merasa malu hati dan tidak enak dengan kelakuan suaminya.
“Bagaimana? Kamu sanggup melunasi hutang bapakmu sekarang?” Pertanyaan pakde mengagetkanku dan memaksa kepalaku untuk menggeleng lesu.
Maka, akhirnya kebun kelapa bapak pun terjual untuk sangu pakde Parsidi pergi naik haji. Para tetua kampung dan sebagian besar penduduk kampung berduyun-duyun ke rumahpakde untuk memberikan ucapan selamat dan doa. Sementara hanya segelintir orang yang mengantarkan keluargaku, pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil.   
“Ikhlas Le, ikhlas. Semuanya milik Gusti, dan akan kembali kepada Gusti...”
Tetapi sungguh, kata-kata ikhlas itu gampang diucapkan tetapi sangat sulit untuk dijalankan. Kuliahku terpaksa berhenti di tengah jalan. Sebagai sulung, aku harus ikut memikirkan kelanjutan pendidikan adik-adikku. Dan penyebab kandasnya cita-citaku adalah pakde. Larangan dari swargi (almarhum) mbah putri, agar aku tidak menjadi wong nderes, justru seperti menjadi sebuah doa. Aku benar-benar menjadi seorang pengambil nira, di kebun milik pakdeku sendiri. Aku harus menelan pahitnya kenyataan, bahkan saat sedang menelan air nira yang sangat manis.
“Berikan doa yang terbaik untuk pakdemu Le,” pinta bapak.
Simbok memberikan bekal serantang srundeng untuk lauk, seandainya selama menjalankan  ibadah, pakde merasa tidak cocok dengan lauk yang disajikan catering hotel. Namun bekal itu ditolak olehnya. Pakde sudah membawa bekal srundeng dari kelapa yang dipetik dari kebunnya sendiri, dan dimasak oleh istrinya sendiri.
“Tidak usah membekali macam-macam. Kalau kalian cuma mau minta didoakan saat aku di depan Hajar Aswad, nanti  aku doakan. Tapi ingat, doa saja tidak cukup. Pintu rejeki akan terbuka kalau kita mau berusaha. Kau kira kekayaanku jatuh sendiri dari langit?”
Begitulah pakde Parsidi. Aku harus menutup telinga kanan dan  kiri, kalau tidak mau sakit hati. Sebentar lagi akan ada gelaran Haji di depan namanya. Mungkin nantinya akan lebih banyak lagi nasehat- nasehat berbumbu kata-kata pedas, yang keluar dari bibir pakde. Sebagai keponakannya, aku hanya butuh gumpalan kapas yang lebih tebal, agar bisa mengangguk-angguk dengan hati yang tetap dingin.
Sore itu, sepulang dari nderes, lamat-lamat aku menangkap suara tangisan mbokde Parsidi di ruang tamu sempit dalam rumah yang dikontrak bapak.
“Aku harus memintakan maaf atas segala kesalahan suamiku kepada keluarga kalian,” ucap mbokde tersendat-sendat.
“Iyo, iyo De, tak seorang pun di dunia ini yang luput dari berbuat salah. Justru karena itulah Gusti Allah telah membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang memohon ampun. Tentu saja aku sebagai manusia biasa telah memaafkan segala kesalahan Kang Parsidi itu....”
Masih banyak lagi kata-kata yang terucap dari bibir bapak, ditingkah sedu sedan dari bibir mbokde Parsidi. Setelah tangisnya agak reda, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut perempuan tua itu yang justru mengagetkanku. Bahwa sebenarnya sejak dulu, pakde Parsidi-lah yang sengaja mengguyurkan satu jerigen besar minyak tanah ke pupus kelapa yang ditanam bapak, hingga pohon kelapa itu layu dan mati. Pakde juga yang memengaruhi para tengkulak agar membeli dengan harga rendah, kepada kelapa-kelapa dari kebun milik bapak. Sehingga simbok memutuskan untuk mengolah kelapa yang muda menjadi geplak dan kelapa yang tua menjadi srundeng.Intinya mbokde Parsidi sangat takut kalau-kalau Pakde belum sempat bertobat, karena sekarang sudah tidak ada kesempatan lagi...
“Memangnya apa yang terjadi dengan Pakde?” tanyaku masih belum mengerti akan makna pengakuan mbokde di antara sedu sedan tangisnya.
“Pakdemu telah berpulang Le. Saat sedang makan, Pakde tersedak oleh parutan kelapa dalam srundeng yang kumasak sendiri.” Mbokde kembali menangis. Sementara aku hanya mampu tertegun sambil menatap kedua bumbung di tanganku yang penuh berisi air nira @end@